Selasa, 04 Januari 2011

Laporan Akhir Ilmu Bahan Pakan


I.       PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Nomenklatur juga perlu diketahui untuk memberi kejelasan tentang identifikasi bahan makanan ternak. Pemberian tatanama Internasional didasarkan atas 6 segi (faset) yaitu:
1)      Asal mula : nama ilmiah
2)      Bagian yang diberikan ternak
3)      Proses-proses dan perlakuan yang dialami
4)      Tingkat kedewasaan
5)      Pemotongan
6)      Grade
Negara Indonesia merupakan negara agraris karena mempunyai berbagai jenis tanaman yang melimpah dan berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan pakan ternak. Selain hijauan, bahan pakan ternak yang lainnya adalah konsentrat. Bahan pakan ternak sebagian besar terdiri dari produk pertumbuhan tanaman, hanya sebagian kecil yang terdiri dari bahan asal hewan. Banyak produk sampingan dari bahan makanan manusia cocok untuk pakan ternak. Disamping itu, sejalan dengan perkembangan teknologi dalam memproses makanan manusia, maka tambahan produk sampingan akan dengan sendirinya meningkat. Apabila suatu pedoman pemberian nama tidak dengan baik disiapkan untuk produk-produk tersebut, maka besar kemungkinan keraguan akan timbul. Sehingga setiap bahan pakan perlu diberi tatanama atau nomenklatur yang jelas sesuai dengan tatanama internasional (Hartadi, 1990).




Nomenklatur atau pemberian nama bahan pakan dengan maksud mengoreksi ketidaktetapan, dalam praktek pemberian nama bahan-bahan makanan suatu sistem Internasional dikembangkan di Amerika Serikat merupakan sebagai prosedur perekaman datanya telah diterima oleh INFIC, di rancang untuk memperkecil kesulitan-kesulitan dalam mengidentifikasi bahan makanan dengan cara memberikan nama yang mencari kepada setiap bahan makanan dan memberi  kepastian bagi standarisasi internasional dalam menentukan bahan makanan (Anggorodi, 1991).
Ketepatan hasil analisa kimia sangat tergantung pada mutu bahan kimia dan peralatan yang digunakan serta kecermatan dan ketelitian kerjanya sendiri. Kecermatan dan ketelitian kerja, selain merupakan sifat pribadi seseorang dapat juga diperoleh karena bertambahnya pengalaman kerja seseorang. Maka sebelum melakukan analisa harus mengenal dan mengetahui alat-alat laboratorium yang akan digunakan beserta fungsi dan cara penggunaannya. Alat dalam menganalisa bahan makanan ini dimaksudkan sebagai pendukung langsung untuk melakukan suatu analisa.  Pengenalan alat dilakukan agar nantinya dapat mendukung acara praktikum yaitu mengenai analisis fisik, analisa kadar abu, kadar air, serat kasar, lemak kasar, protein kasar, FAA dan Gross Energy.
Bahan makanan merupakan bahan yang sudah dapat dimakan, dicerna dan digunakan oleh hewan. Secara umum dapat dikatakan bahwa bahan makanan adalah bahan yang dapat dimakan (edible). Bahan makanan ternak terdiri dari tanaman, dan kadang-kadang juga berasal dari ternak atau hewan yang ada di laut. Karena ternak pada umumnya tergantung pada tanaman sebagai sumber makanannya. Bahan pakan memiliki kondisi fisik kimia yang berbeda-beda sehingga dalam penanganan, pengolahan, maupun penyimpanannya memerlukan perlakuan yang berbeda pula. Tujuan dari mengetahui sifat-sifat suatu bahan pakan adalah mempermudah penanganan dan pengangkutan, menjaga homogenitas, dan stabilitas saat pencampuran (Sudarmadji, 1997).

Pertumbuhan, produksi, reproduksi dan hidup pokok hewan memerlukan zat gizi. Makanan ternak berisi zat gizi, untuk keperluan kebutuhan energi dan fungsi-fungsinya sehingga memungkinkan digunakan dalam penyusunan ransum dengan cara sederhana.  Secara umum sifat fisik bahan pakan tergantung dari jenis dan ukuran partikel bahan. Sekurang-kurangnya ada enam sifat fisik pakan yang penting yaitu berat jenis, kerapatan tumpukan, luas permukaan spesifik, sudut tumpukan, daya ambang, dan faktor higroskopis (Jaelani, 2007).
Penyediaan bahan pakan pada hakekatnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ternak akan zat-zat makanan. Pemilihan bahan tidak akan terlepas dari ketersediaan zat makanan itu sendiri yang dibutuhkan oleh ternak. Untuk mengetahui berapa jumlah zat makanan yang diperlukan oleh ternak serta cara penyusunan ransum, diperlukan pengetahuan mengenai kualitas dan kuantitas zat makanan. Merupakan suatu keuntungan bahwa zat makanan, selain mineral dan vitamin, tidak mempunyai sifat kimia secara individual. Secara garis besar jumlah zat makanan dapat dideterminasi dengan analisis kimia, seperti analisis proxsimat, dan terhadap pakan berserat analisis proxsimat lebih dikembangkan lagi menjadi analisis serat (Soejono, 2004).
Asam lemak bebas ditentukan sebagai kandungan asam lemak yang terdapat paling banyak dalam minyak tertentu. Lipida terdiri dari asam-asam lemak dan alkohol. FFA sesuai dengan namanya adalah "free fatty acids" atau "asam lemak bebas" yaitu nilai yang menunjukkan jumlah asam lemak bebas yang ada di dalam lemak atau jumlah yang menunjukkan berapa banyak asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak setelah lemak tersebut dihidrolisa.Tujuan analisa angka asam atau bilangan saponifikasi adalah sebagai indikasi untuk mengetahui seberapa besar Mr lemak yang dianalisa. FFA adalah bagian dari angka asam untuk mengetahui tingkat kerusakan minyak, semakin tinggi FFA, semakin tinggi tingkat kerusakan minyak. Sebagai faktor koreksi pada titrasi, sehingga dapat mengetahui volume titran yang benar-benar bereaksi dengan titran yang diinginkan. Asam lemak bebas merupakan hasil degradasi dari trigliserida, sebagai akibat dari kerusakan minyak (Lubis, 1985).
Nilai energi dari bahan makanan dapat dinyatakan dengan cara yang berbeda-beda. Pernyataan mengenai nilai energi bisa didapatkan secara langsung dengan peneitian atau dihitung dengan menggunakan faktor-faktor yang dimilikinya. Energi bruto bahan pakan ditentukan dengan membakar sejumlah bahan sehingga diperoleh hasil oksidasi berupa CO2, air, dan gas lainnya. Energi bruto adalah banyaknya panas (diukur dalam sel) yang dilepas apabila suatu zat dioksidasi secara sempurna dalam bomb kalorimeter (25-30 atm O2). Bomb kalorimeter terbuat dari logam tebal yang kuat dan tahan asam berfungsi untuk menentukan energi total dan sampel makanan (Rahardjo, 2001).
1.2.    Waktu dan Tempat
Praktikum Ilmu Bahan Pakan dilaksanakan Kamis – Jum’at, 21-23 Oktober 2009 pukul 14.00 WIB s.d. selesai dan bertempat di Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman.


II.      TUJUAN DAN MANFAAT








 

2.1.    Tujuan
1.        Pemberian nomenklatur dan pengelompokan bahan pakan.
2.        Mengenal alat laboratorium.
3.        Mengetahui sifat fisik suatu bahan pakan ternak.
4.        Menganalisis komposisi zat gizi suatu bahan pakan.
5.        Menganalisis kadar asam lemak bebas suatu bahan pakan.
6.        Menganalisis energi bruto suatu bahan pakan.
2.2.    Manfaat
1.        Mengetahui nomenklatur bahan pakan beserta pengelompokan dan kandungan nutriennya.
2.        Mengetahui alat-alat yang digunakan dalam berbagai analisa bahan pakan.
3.        Mempermudah penanganan dalam pengolahan dan pengangkutan.
4.        Menjaga homogenitas dan stabilitas saat pencampuran.
5.        Mengetahui tentang jumlah kadar air, bahan kering, kadar abu, bahan organik, lemak kasar, protein kasar, dan serat kasar suatu bahan pakan.
6.        Mengetahui kadar asam lemak bebas suatu bahan pakan.
7.        Menyusun ransum.
8.        Mengevaluasi keberhasilan pemberian pakan.




III.        TINJAUAN PUSTAKA








 

3.1.   Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
3.1.1.  Nomenklatur Bahan Pakan
Negara yang telah maju, nama-nama bahan pakan yang diperdagangkan telah diatur oleh pemerintah.  Nama-nama tersebut meliputi keterangan mengenai proses yang dikerjakan oleh perusahaan atau pabrik pakan ternak yagn memuat tanggungan kualitasnya.  Nama bahan pakan tersebut biasanya adalah nama umum atau nama dagang.  Oleh karena itu ada salah satu cara pemerian nama internasional yang diusulkan oleh Haris (1980) untuk menanggulangi ketidakteraturan dalam pemberian nama bahan pakan (Rahardjo, 2001). 
Bahan makanan ternak adalah suatu bahan yang dapat dimakan oleh hewan yang mengandung energi dan zat gizi (atau keduanya) didalam makan tersebut (Hartadi, 1990).  Sedangkan pengertian bahan pakan yang lebih lengkap yaitu segala sesuatu yang dapat dimakan hewan (ternak) yang mengandung unsur gizi dan atau energi, yang tercerna sebagian atau seluruhnya dengan tanpa mengganggu kesehatan hewan yang bersangkutan (Sutardi, 2002).
Menurut Tillman (1984) umumnya makanan ternak mengandung sebagian serat kasar misalnya hijauan kering yang dicerna lebih lambat dan lebih sedikit dibandingkan dengan biji-bijian. Oleh karena itu, bahan makanan tersebut digolongkan menjadi hijauan kasar. Bahan pakan ternak terdiri dari hijauan dan konsentrat, serta dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar yaitu bahan pakan konvensional dan bahan pakan inkonvensional.  Bahan pakan konvensional adalah bahan pakan yang lazim digunakan sebagai bahan pakan ternak, seperti hijauan, leguminosa, butiran, dan feed additive. Sedangkan bahan pakan inkonvensional adalah bahan pakan yang tidak lazim diberikan pada ternak, seperti limbah industri kue dan roti, bulu, darah, dan kulit nanas.


 Bamualim (1994), menyatakan penampilan produksi ternak yang masih sangat rendah terutama disebabkan oleh kuantitas dan kualitas hijauan yang kurang memadai pada musim kemarau, maka salah satu alternatif sumber pakan lokal antara lain pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan substitusi (Prasetyo, 2006). Nomenklatur berisi tentang peraturan untuk pencirian atau tatanama bahan pakan. Pencirian bahan pakan dirancang untuk memberi nama setiap bahan pakan. Setiap pemberian tatanama bahan pakan terdiri atas enam faset.

31.2. Pengenalan Alat
Pengenalan alat dan nomenklatur bahan pakan merupakan hal yang paling mendasar sebelum melakukan analisis kimia terhadap bahan pakan. Pengenalan alat mencakup semua instrumen laboratorium sebagai pendukung langsung dalam menganalisis bahan pakan. Pengenalan alat dan pengetahuan cara pemakaian harus dipahami agar diperoleh hasil yang tepat. Cara pokok dalam perlakuan umum yang sering dijumpai dalam laboratorium agar memperoleh hasil analisa yang benar, antara lain dilakukan pengenalan mengenai alat-alat laboratorium dan cara penggunaannya (Sudarmadji, 1997).

3.2.   Uji Fisik Bahan Pakan
3.2.1. Density
Merupakan perbandingan antara berat bahan dengan volume ruang yang ditempati oleh bahan tersebut.  Menurut Axe (1995), apabila bahan mempunyai berat jenis partikel yang berbeda jauh, maka cenderung memisah setelah mixing dan handling.  Partikel yang lebih padat atau rapat berpindah ke bawah melewati partikel lam yang lebih halus atau ringan.Berat jenis konsentrat menurut hasil praktikum adalah 0,4 gr/ ml dan 0,424 gr/ml.
Menurut Soedarmadji (1997), menyatakan peranan berat jenis suatu bahan pakan yaitu :
1.      Menentukan daya ambang
2.      Berpengaruh terhadap besarnya kerapatan tumpukan
3.      Bersama ukuran partikel berpengaruh terhadap homogenitas dan stabilitas pencampuran
4.      Berpengaruh terhadap kecepatan penakaran

3.2.2. Luas Permukaan Spesifik
Luas permukaan spesifik merupakan bahan pada berat tertentu mempunyai permukaan luas.  Peranan dari permukaan luas adalah untuk mengetahui tingkat kehalusan dan suatu bahan secara spesifik akan tetapi tanpa diketahui adanya komposisi secara keseluruhan.
Luas yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebesar 72 cm/ gr. Hal ini menunjukkan bahwa bahan pakan ini teksturnya kurang halus sehingga masih tergolong ke dalam tekstur yang jelek(Soedarmadji,1997).


3.2.3. Daya Ambang
Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu partikel bahan jika dijatuhkan dari atas ke bawah dalam jangka waktu tertentu.
3.2.4. Sudut Tumpukan
Sudut Tumpukan adalah sudut yang dibentuk oleh bahan pakan diarahkan pada bidang datar.  Sudut tumpukan merupakan kriteria kebebasan bergerak pakan dalam tumpukan.  Semakin tinggi tumpukan, maka semakin kurang bebas suatu tumpukan.  Sudut tumpukan berfungsi dalam pembentukan kemampuan mengalir suatu bahan, efisiensi pengangkutan secara mekanik (Thomson, 1984).
3.3.  Analisis Proksimat
Analisis proxsimat pertama kali dikembangkan di Weende Experiment Station Jerman oleh Hennerberg dan Stokman, oleh karenanya analisis ini sering juga dikenal dengan Analisis Weende. Analisis proxsimat menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan komposisi kimia dan fungsinya, yaitu: air (moisture), abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether extract), serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (nitrogen free extract). Analisis proksimat menggolongkan vitamin berdasarkan kelarutannya. Vitamin yang larut di dalam air dimasukkan ke dalam fraksi air, sedang yang larut dalam lemak dimasukan ke dalam lemak kasar (Soejono, 2004).
Bahan pakan mengandung zat-zat kimia yang secara umum semua makanan mengandung air yang lebih banyak dari kandungan lain. Tinggi rendahnya kadar air mempengaruhi kebutuhan hewan akan air minum. Banyaknya air yang terkandung pada suatu bahan makanan dapat diketahui jika bahan tersebut dipanaskan atau dikeringkan pada temperatur tertentu. Ukuran berat sebelum dan setelah dipanaskan dicari selisihnya maka akan sama dengan berat air (Lubis, 1993).

3.4.   Free Fatty Acid
Asam lemak bebas ditentukan sebagai kandungan asam lemak yang terdapat dalam fat setelah dihidrolisa sehingga bisa dikorelasikan dengan banyaknya sabun yang terbentuk (Anggorodi, 1991).
Penetapan asam lemak bebas berprinsip bahwa lemak bebas yang terdapat paling banyak pada minyak tertentu (Sutardi, 2004). Analisis ini diperhitungkan banyaknya zat yang larut dalam basa atau asam di dalam kondisi tertentu. Asam lemak bebas tidak mengurangi fungsi antioksidan dan melindungi ternak. Apabila penambahan terlalu banyak kadar lemak bebas, akan merusak mesin karena asam lemak mudah bereaksi dengan bagian metan yang akhirnya menyebabkan karat (Sudarmadji, 1997).
Asam lemak dengan grup-grup fungsional seperti epoksi dan hidroksi sulit sekali untuk diesterifikasi tanpa merusaknya terlebih dahulu. Katalisis ester yang sulit dilakukan dengan metode kimiawi tersebut menjadi sederhana dengan pemanfaatan teknologi enzimatik lipase (Sulistyo, 1999).
3.5.   Energi Bruto
Gross Energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO2 dan air. Tentu saja CO2 dan air ini masih mengandung energi, akan tetapi dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak bisa memecah zat-zat melebihi CO2 dan air. Gross Energy diukur dengan alat bomb kalorimeter. Besarnya energi bruto bahan pakan tidak sama tergantung dari macam nutrien dan bahan pakan (Sutardi, 2004).
Energi total makanan adalah jumlah energi kimia yang ada dalam makanan, dengan mengubah energi kimia menjadi energi panas dan diukur jumlah panas yang dihasilkan. Panas ini diketahui sebagai sumber energi total atau panas pembakaran dari makanan, bomb kalorimeter digunakan untuk menentukan energi total dan sampel makanan dipijarkan dengan aliran listrik. Metode ini dipakai untuk energi total makanan dan produk ekskretori (Tillman, 1993).


Sudarmadji (2004) menyatakan bahwa apabila suatu nutrien organik dibakar sempurna sehingga menghasilkan oksisda (CO2,H2O), maka panas yang dihasilkan disebut energi bruto. Guna menentukan besarnya energi bruto bahan pakan dapat digunakan suatu alat bom kalorimeter.  Besarnya nilai energi bahan pakan tidak sama twrgantung dari macam nutrien dan bahan Pakan.
Analisis kadar energi adalah usaha untuk mengetahui kadar energi bahan baku pakan, dalam analisis biasanya ditentukan energi bruto lebih dahulu dengan cara membakar sejumlah bahan baku pakan sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi yang berupa karbondioksida air dan gas lainnya. Untuk mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran digunakan suatu alat bom kalorimeter. Penentuan energi bruto menentukan jumlah energi kalori dalam bahan baku pakan yang dianalisis (Prasetyastuti, 1988).





IV.         MATERI DAN CARA KERJA
 

4.1.       MATERI
4.1.1.      Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.1.1.1.   Nomenklatur Bahan Pakan
1.        Nomenklatur Hijauan Pakan
a.         Alang – alang             (Imperata silindrica)
b.         Benggala                    (Panicum maximum)
c.         Rumput Gajah            (Pennicetum purpureum)       
d.         Rumput Raja              (Pennicetum purpuroides)
e.         Kaliandra                   (Calliandra calothyrtus)
f.           Lamtoro                     (Leucaena glauca)
g.         Putri Malu                  (Mimosa Pudica)
h.         Gamal                        (Glirisida maculata)
i.           Daun singkong            (Manihot utilissima)
j.           Daun pisang               (Musa parasidiaca)
k.         Daun waru                 (Hibiscus tileateus)
l.           Daun nangka              (Arthocarpus integra)
m.       Daun dadap               (Erytrina lithospermae)
2.        Nomenklatur Bahan Pakan Konsentarat
a.         Premix
b.         Kapur
c.         Urea
d.         Phosfat alam
e.         Vita Chicks
f.           Tepung kulit udang
g.         Tepung udang
h.         Tepung tulang sapi
i.           Tepung darah
j.           Tepung kerabang telur
k.           Tepung tulang ikan dan sirip
l.              Tepung kerang
m.          Tepung kedelai
n.            Pollard
o.           Bekatul
p.           Onggok
q.           Bugkil kedelai
r.             Bungkil kelapa
s.            Millet
t.             Jagung

4.1.1.2.   Pengenalan Alat
1.        Destruktor
2.        Labu kjeldhal
3.        Autoklaf
4.        Oven
5.        Waterbath
6.        Soklet
7.        Kondensor
8.        Labu didih
9.        Penjepit
10.    Filler
11.    Kompor listrik
12.    Destilator
13.    Tabung CO
14.            Timbangan duduk
15.            Timbangan Chauss
16.            Timbangan analitik
17.            Cawan porselin
18.            Becker glass
19.            Gelas ukur
20.            Erlenmeyer
21.            Pipet ukur
22.            Pipet seukuran
23.            Corong
24.            Desikator
25.            Bomb
26.            Bucket
4.1.2.      Uji Fisik Bahan Pakan
4.1.2.1.   Berat Jenis (Density)
1.        Bekatul
2.        Gelas ukur 100 ml
3.        Timbangan analitik
4.1.2.2.   Luas Permukaan Spesifik
1.        Bekatul
2.        Kertas milimeter blok
3.        Spidol
4.1.2.3.   Daya Ambang
1.        Bekatul
2.        Stopwatch
3.        Nampan
4.        Timbangan analitik
4.1.2.4.   Sudut Tumpukan
1.        Bekatul
2.        Mistar
3.        Corong
4.        Besi penyangga
5.        Timbangan analitik
4.1.3.      Analisis Proxsimat
4.1.3.1.   Kadar Air dan Kadar Bahan Kering
1.        Sampel (basal)
2.        Cawan porselin
3.        Oven
4.        Desikator
5.        Timbangan analitik
6.        Tang penjepit

4.1.3.2.   Kadar Abu dan Kadar Bahan Organik
1.   Cawan porselin berisi BK
2.   Desikator
3.   Tanur (verasingoven)
4.   Timbangan analitik
5.   Tang penjepit

4.1.3.3.   Kadar Protein Kasar
1.         Labu kjeldhal
2.         Destilator
3.         Erlenmeyer
4.         Destruktor
5.         Mikro buret
6.         Pipet 10 ml
7.         Kompor listrik
8.            Timbangan
9.            Sampel (basal)
10.        Larutan H2SO4 pekat
11.        Larutan HCl 0,1 N
12.        Asam borat
13.        Indikator Metyl red
14.        Larutan NaOH 40%
4.1.3.4.   Kadar Serat Kasar
1.        Erlenmeyer 250 ml
2.        Cawan porselin
3.        Kertas saring Whatman
4.        Corong tegak
5.        Timbangan analitik
6.        Oven
7.        Tanur
8.                Tang penjepit
9.                Alat pemanas / kompor listrik
10.            Timbangan analitik
11.            Kondensor
12.            Sampel (basal)
13.            Larutan H2SO4 0,3 N
14.            Larutan NaOH 1,5 N
4.1.3.5.   Kadar Lemak Kasar
1.        Alat ekstraksi soxhlet
2.        Labu
3.        Kondensor
4.        Oven
5.        Timbangan analitik
6.                Waterbath
7.                Desikator
8.                Kertas saring whatman
9.                Sampel (basal)
10.            Petrolium benzen
4.1.4.      Free Fatty Acid
1.        Konsentrat sapi (basal)
2.        Erlenmeyer
3.        Buret
4.        Pipet tetes
5.        Timbangan analitik
6.        Alkohol netral
7.                Kertas saring
8.                Corong
9.                Kompor listrik
10.            Kondensor
11.            Indikator PP

4.1.5.      Energi Bruto
1.        Konsentrat sapi (basal)
2.        Aquades
3.        Bomb kalorimeter
4.        Lignition wire
5.        Tabung O2

6.        Bucket
7.        Termometer
8.        Pipet
9.        Buret
10.    Erlenmeyer


4.2.  CARA KERJA
4.2.1.      Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.2.1.1.   Nomenklatur Bahan Pakan
Hijauan dan Konsentrat

digambar, ditulis keterangan
 

dibuat tabel
4.2.1.2.   Pengenalan Alat
Alat

digambar, ditulis keterangan
 

dibuat tabel
4.2.2.      Uji Fisik Bahan Pakan
4.2.2.1.   Berat Jenis (Density)
Ditimbang gelas ukur 100 ml 

sampel dimasukan

ditimbang
4.2.2.2.   Luas Permukaan Spesifik
1 gram sampel

diratakan pada milimeter blok

diukur luasnya


4.2.2.3.   Daya Ambang
1 gram sampel
 
dijatuhkan dari jarak 1 m


 

 waktu dicatat
4.2.2.4.   Sudut Tumpukan
disiapkan alat dan bahan
 

dipasang corong

bahan ditimbang 200 gr
 

bahan dituang

diukur diameter

diukur tinggi curahan
4.2.3.      Analisis Proxsimat
4.2.3.1.   Kadar Air dan Kadar Bahan Kering
Cawan porselin dioven 1050 C lalu ditimbang (X)


 

ditimbang  sampel 2 gr (Y)

dioven  (1050C) 10 Jam
 

didesikator (10 menit)


 

ditimbang (Z)


4.2.3.2.   Kadar Abu dan Kadar Bahan Organik
ditimbang cawan porselin berisi BK (2 gr sampel) (Y)

ditanur 6000C (4-12 jam)

didinginkan (1400 C)

didesikator


 

sampel ditimbang  (Z)
4.2.3.3.   Kadar Protein Kasar
Sampel ditimbang 0,1 gr

dimasukan kedalam labu kjeldhal


ditambah 3 gr katalisator dan
1,5 ml H2SO4 pekat


didestruksi


erlenmeyer 125ml diisi 10ml asam borat dan beberapa tetes indikator pp


ditambahkan 10 ml NaOH 40 % dari corong atas

didestilasi

volume 60 ml dihentikan
 

hasil didestilasi 
 

dititrasi
4.2.3.4.   Kadar Serat Kasar
Sampel ditimbang 1 gr
 

dimasukan ke erlenmeyer

ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N
 

didihkan (30 menit)

ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 ml didihkan 30 menit
 

disaring
 

dicuci (50ml H2O panas, 50ml H2SO4 0,3N, 50ml H2O panas, dan 25ml Aceton)

dioven 1050C (8 jam)


 

didesikator
 

ditimbang (Y)


 

ditanur 6000C
 

didesikator


 

ditimbang (Z)
4.2.3.5.    Kadar Lemak Kasar
Kertas saring whatman

dioven dan didesikator


 

sampel ditimbang 1 gr (X)
 

dibungkus  dioven 1050c (± 14 jam)           
 

didesikator (10 menit)


 

ditimbang (Y)
 

dimasukan kedalam alat ekstraksi soxlet


 

diekstraksi (16 jam)

diangin-anginkan

dioven 1050C (± 14 jam)

didesikator

ditimbang
4.2.4.      Free Fatty Acid
Sampel 14,1 gr

ditimbang

ditambahkan alkohol netral

direfluk

disaring

ditambahkan indikator PP

dititrasi
4.2.5.      Energi Bruto
Kertas saring dioven lalu ditimbang

sempel ditimbang 0,5 gr

dibungkus dan diikat

dipasang pada bomb kalorimeter

diisi oksigen

dimasukkan kedalam bucket

dicatat temperaturnya

dikeluarkan

CO dikeluarkan dari bomb

dicuci dengan aquades

dihitung kawat sisa

ditirasi air cucian 10 ml


V.       HASIL DAN PEMBAHASAN
 

5.1.       HASIL
5.1.1.      Nomenklatur Bahan dan Pengenalan Alat
Tabel 1. Nomenklatur Hijauan Pakan
No
Nama Ilmiah
Gambar
Jenis
Bagian
Defoliasi
Sumber
Grade
1
Imperata silindrica
Graminae
Daun
Aerial
40-60 hari
Serat/Karbohidrat
SK:10%
PK:5-8%
2
Panicum maximum
Graminae
Daun
Aerial
40-60 hari
Serat/Karbohidrat
SK:8-10%
PK:3-5%
3
Pennicetum purpureum
DSCN6006.JPG
Graminae
Daun
Aerial
50-70 hari
Serat/Karbohidrat
SK:12-13%
PK:8-9%
4
Pennicetum purpuroides
DSCN6008.JPG
Graminae
Daun
Aerial
45-70 hari
Serat/Karbohidrat
SK:10-11%
PK:7-9%
5
Leucaena glauca
DSCN6019.JPG
Leguminosa
Daun
Dewasa
Serat/Karbohidrat
Protein
PK:11-12%
SK:7-8%
6
Calliandra calothyrtus
DSCN6009.JPG
Leguminosa
Daun
Dewasa
Protein
PK:9-10%
SK:7-8%
7
Mimosa pudica
27102009542.jpg
Leguminosa
Daun
Dewasa
Serat/Karbohidrat
Protein
PK:10-11%
SK: 8%
8
Erytrina lithospermae
27102009544.jpg
Ramban
Daun
Dewasa
Serat/Karbohidrat

PK:3-4%
SK:8-9%
9
Hibiscus tileateus
DSCN6010.JPG
Ramban
Daun
Dewasa
Serat/Karbohidrat

PK: 3-4%
SK:9-10%
10
Arthocarpus integra
DSCN6001.JPG
Ramban
Daun
Dewasa
Serat/Karbohidrat

PK:2-3%
SK:12-14%
11
Glirisida maculata
DSCN6003.JPG
Ramban
Daun
Dewasa
Serat/Karbohidrat

PK:12-13%
SK:8-10%
12
Manihot utilissima
DSCN6005.JPG
Limbah pertanian
Daun
Dewasa
Serat/ karbohidrat
PK:9-10%
SK:5-6%
13
Musa parasidiaca
DSCN6012.JPG
Limbah pertanian
Daun
Dewasa
Serat/ karbohidrat
PK:4-5%
SK: 10-11%

Tabel 2. Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
No
Nama
Gambar
Asal
Bagian
Proses
Sumber
Grade
1
Premix
27102009570.jpg
Campuran mineral
Mineral
dicampur
Zat aditif
PK: 90%
SK: 1%
Abu: 4,5%
Ca: 0,3%
   P: 0,25%-
2
Vita chicks
27102009571.jpg
Berbagai vitamin
-
dicampur/mixing
Vitamin
-
3
Urea
27102009572.jpg
Nitrogen (NPN)

pemurnian kristalisasi
Nitrogen
220%
4
Kapur
27102009568.jpg
Batu kapur
-
dikeringkan digiling
Mineral
-
5
Phosfat alam
27102009567.jpg
Batu-batuan alam
-
dikeringkan digiling
Mineral
-
6
Tepung kerabang telur ayam/itik
27102009554.jpg
Ayam/itik
Kerabang
dikeringkan digiling
Mineral
18-20%
7
Tepung tulang sapi
27102009556.jpg
Sapi
Tulang
dikeringkan diautoklaf digiling
Mineral
17-19%
8
Tepung tulang kambing
27102009558.jpg
Kambing
Tulang
dikeringkan diautoklaf digiling
Mineral
17-19%
9
Tepung tulang ayam
DSCN6024.jpg
Ayam
Tulang
dikeringkan diautoklaf digiling
Mineral
13-14%
10
Tepung tulang ikan dan sirip
27102009561.jpg
Ikan
Tulang Sirip
dikeringkan diautoklaf digiling
Mineral
20-21%
11
Tepung kepala udang
27102009559.jpg
Udang
Kepala
dikeringkan digiling
Mineral Protein
18-19%
12
Tepung kulit udang
27102009562.jpg
Udang
Kulit
dikeringkan digiling
Mineral Protein
11-12%
13
Tepung udang
27102009563.jpg
Udang
Udang
dikeringkan digiling
Protein
22-23%
14
Tepung kerang
27102009564.jpg
Kerang
Daging
dikeringkan digiling
Protein
25-27%
15
Tepung darah ayam
Ayam.jpg
Ayam
Darah
dikeringkan digiling
Protein
70%
16
Tepung darah sapi
27102009552.jpg
Sapi
Darah
dikeringkan digiling
Protein
80-85%
17
Visceral ikan

viscera ikan.jpg
Ikan
Visceral
dikeringkan digiling
Protein
-
18
Bungkil kedelai
bungkil kedelai.jpg
Kedelai
Ampas
ekstraksi minyak disaring dikeringkan
Protein
-
19
Bungkil kelapa
Kelapa
Ampas
ekstraksi minyak disaring dikeringkan
Protein
-
20
Tepung kedelai
Kedelai
Biji
dikeringkan digiling
Protein Energi
-
22
Jagung kuning pipilan
jagung pupil kuning.jpg
Jagung
Biji
dikeringkan
Energi
-
23
Onggok
27102009566.jpg
Singkong
Ampas
ekstraksi disaring dikeringkan
Energi
2900-800kkal
24
Pollard
Gandum
Biji
dikeringkan digiling
Energi
-
25
Bekatul
Padi
Biji
dikeringkan digiling
Energi
-











Tabel 3. Pengenalan Alat
No
Nama
Gambar
Fungsi
1
Destruktor
detruktor.jpg
Memanaskan dalam uji protein
2
Destilator
DSC00531.jpg
Menyuling larutan
3
Autoklaf
DSC00535.jpg
Sterilisasi
4
Oven
DSCN6028.JPG
Memanaskan atau mengeringklan bahan dan alat
5
Waterbath
DSCN6034.JPG
Memanaskan dalam analisis lemak kasar
6
Soxhlet
27102009576.jpg
Ekstraksi lemak kasar
7
Kondensor
DSCN6045.JPG
Mencegah uap keluar
8
Desikator
DSC00536.jpg
Menstabilkan suhu, menyerap suhu

9
Penjepit
tang penjepit
Menjepit bahan atau alat yang telah dioven/ditanur
10
Filler
Mengambil larutan
11
Kompor listrik
DSCN6044.JPG
Memanaskan
12
Tabung CO2
DSCN6043.JPG
Sumber/Penampung CO2
13
Timbangan Analitik
Snapshot200
Menimbang bahan
14
Timbangan duduk
timbangan
Menimbang
15
Timbangan Chauss
DSCN6050.JPG
Menimbang
16
Labu Kjeldhal
Snapshot194.jpg
Tempat bahan analisis protein
17
Labu didih
DSCN6031.JPG
Mendidihkan
18
Becker glass
Snapshot195
Mengukur larutan
19
Gelas ukur
Snapshot193
Mengukur larutan
20
Erlenmeyer
Snapshot196
Mengukur larutan, tempat titrasi
21
Pipet ukur
Snapshot203
Mengukur dan  memindahkan larutan
22
Pipet seukuran
Snapshot202
Mengukur dan  memindahkan larutan
23
Cawan porselin
Snapshot204
Tempat sampel
24
Corong
Memasukkan cairan agar tidak tumpah
25
Bomb
DSCN6051.JPG
Analisis energi bruto
26
Penyangga bomb
DSCN6052.JPG
Menyangga bomb
27
Termometer
Mengukur suhu di dalam bucket
28
Bucket
Snapshot198
Analisis energi bruto

5.1.2.      Uji Fisik Bahan
5.1.2.1.   Berat Jenis (Density)
Gelas ukur (A)  = 89 gram
Sampel (B)        = 124,5 gram
BJ1    =  
=  
=  0,288 gr/ml
BJrata-rata       =  
=  
=  0,294 gr/ml
Gelas ukur (A) = 89 gram
Sampel (B)        = 156,3 gram
BJ2       =  
=  
=  0,301 gr/ml
5.1.2.2.    Luas Permukaan Spesifik
Sampel      = 1 gram
Luas          = 43,87 cm²

LPS1      =  
=  
=  43,87 cm²/gr

LPSrata-rata           =  
=  
=  44,94 cm2/gr
Sampel    = 1 gram
Luas        = 46,01 cm²

LPS2    =  
=  
=  46,01 cm²/gr

5.1.2.3.   Daya Ambang
Jarak       = 1 m
Waktu     = 0,5 s
DA1      =  
  =  
  =  2 m/s
DArata-rata      =  
=  
=  1,83 m/s
Jarak        = 1 m
Waktu      = 0,35 s
DA2     =  
 =  
 =  1,66 m/s
5.1.2.4.   Sudut Tumpukan
Tinggi  (t1)  = 8 cm
Tinggi (t2)   = 7,6 cm
d1                     = 19,5 cm
d2                     = 20,5 cm
  
                    =
                    = 0,82
            
Rata-rata       
                         
                           = 37,93°
             = 0,74
     

5.1.3.      Analisis Proxsimat
5.1.3.1.   Kadar Air dan Kadar Bahan Kering
Berat cawan (X)         = 20,36 gram
Sampel (Y)                = 2 gram
Berat oven 1 (Z1)       = 22,09 gram
Berat oven 2 (Z2)       = 22,09 gram
Berat oven (Z)            = 22,09 gram
BK    =    x  100%
          =    x  100%
          =    86,5 %
KA    =   100 %  % BK  
          =   100 %  86,5 %
          =   13,5 %
5.1.3.2.   Kadar Abu dan Kadar Bahan Organik
Berat cawan (X)                     = 20,36 gram
Sampel (Y)                            = 2 gram
Berat setelah tanur (Z)            = 20,44 gram
Kadar Abu    =  x 100%
      =    x  100%
      =  4,6 %
BO    =   100 %  4,6%
          =   95,4 %


5.1.3.3.   Kadar Protein Kasar
ml titran                      = 1,97 ml
N HCl                        = 0,1 gram
Berat sampel = 0,1 gram
Kadar PK = X 100 %
                  = X 100 %
                  = 17,2 %
5.1.3.4.   Kadar Serat Kasar
Berat kertas saring (a)                        = 0,62 gram
Sampel (x)                                         = 1 gram
Berat setelah oven  (y)                        = 21,25 gram
Berat setelah tanur  (z)                        = 20,51 gram
Kadar SK      =  x100%
                      =    x  100%
                      =  12 %
5.1.3.5.   Kadar Lemak Kasar
Berat kertas saring                  = 0,36 gram
Sampel (X)                            = 1 gram
Berat setelah oven 1 (Y)         = 1,21 gram
Berat setelah oven 2 (Z)         = 1,22 gram
Kadar Lemak =    x  100%
                                  =    x  100%
                                  =   0,5 %
5.1.4.      Free Fatty Acid
ml NaOH                             = 3,3 ml
N NaOH                              = 0,1 gram
Berat molekul asam lemak  = 278
Berat contoh bahan              = 14,1 gram
% FFA             = X 100 %
                        = X 100 %
                        = 0,651 %


5.1.5.  Analisis Energi Bruto
Tabel 4. Temperatur dalam Bucket

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Ta
27,6
27,3
27,3
Tc
27,4
27,6
27,8
27,9
Sisa kawat        = 5 cm
ml titran            = 0 ml
Perhitungan
Berat sampel = 0,5 gram
ta         = 27,3
tc1        = 27,4
tc         = 27,9
Ta        = 5
Tc        = ½ x 5 = 2,5
E1         = x 0 = 0
E2           = 0,25
E3         = (12 - 5) x 2,3 = 16,1
r1          = = 0,02
Tb        = 0,6 x (5 + 2,5) = 4,5
T          = (27,9 -  27,3) – 0,02 x │5 – 4,5│ = 0,59
BK       = 86,5 %
Koreksi benzoat = 0,985
Hg         = 
=  3267,56 Kkal
 GE         =  Hg x Koreksi Benzoat
                           =  3267,56 x 0,985
                           =  3218,54 Kkal
GE          = GE – GE Kertas
                        = 3218,54 – 429,5
                        = 2789,04 kal/gr

5.2.    PEMBAHASAN
5.2.1.      Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
Bahan makanan ternak atau pakan diartikan sebagai semua bahan yang dapat dimakan oleh ternak. Bahan pakan mengandung sejumlah senyawa yang dibutuhkan oleh ternak dalam menunjang proses kehidupan yang disebut zat makanan. Seperti halnya bahan pangan, sumber utama bahan pakan berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani) baik sebagai produk utama maupun hasil ikutan (limbah) pengolahan produk utama. Setiap bahan pakan perlu diberi tatanama yang baku, karena :
1.        Jumlah bahan pakan ternak mencapai puluhan sampai ratusan.
2.        Diperlukan pencirian pemberian nama yang baik.
3.        Hasil sampingan yang dihasilkan dari produk pangan manusia semakin banyak.
4.        Processing menyebabkan bahan asal yang berbeda menjadi bahan baru dan kandungan gizi berubah.
Ciri-ciri bahan makanan dibedakan dan dipisahkan dengan mengkhususkan dari kualitas-kualitas bahan makanan yang dihubungkan dengan perbedaan nilai gizinya. Pemberian tatanama internasional didasarkan atas enam faset, yaitu :
1.        Asal mula (Origin) ; meliputi nama ilmiah (genus, spesies, varietas); nama umum ( jenis, bangsa atau macam, strain); dan rumus kimia. Bahan makanan ternak berasal tidak hanya dari satu jenis bahan induk tetapi makanan ternak berasal dari berbagai bahan-bahan induk. Maka asal mula suatu bahan pakan perlu diketahui. Apabila mungkin, bahan pakan harus diberi keterangan dengan nama-nama umumnya sampai tiga tingkatan. Tingkat pertama harus nama jenis (genera), tingkat kedua harus nama khusus (bangsa atau macam), tingkat ketiga harus memuat sifat-sifat khusus yang penting lainnya (strain). Bahan makanan dengan asal tidak khusus tidak mempunyai nama-nama ilmiah. Dalam kasus ini, nama umum yang asli digunakan untuk mengganti nama ilmiah. Sehingga nama umum yang asli dan nama ilmiah menjadi sama. Mineral-mineral, obat-obatan dan senyawa-senyawa kimia disusun dalam daftar berdasarkan nomenklatur dari CRC. Rumus-rumus kimia digambarkan apabila tersedia.
2.        Bagian (Part) ; diberikan kepada ternak, sebagaimana proses yang dialami. Pada waktu yang lalu, bagian tanaman atau hewan yang dapat dimakan adalah jelas, seperti daun, tangkai, biji, potongan daging, atau tulang. Pada saat ini, dikarenakan adanya pembagian yang lebih lanjut dari biji tanaman dan pencampuran kembali dari bagian-bagian menjadi bahan makanan baru setelah diproses, banyak produk sampingan tersedia untuk makanan ternak. Juga produk sampingan dari penyiapan daging dan ikan untuk konsumsi manusia.
3.        Proses-proses dan perlakuan-perlakuan ; sebagaimana yang dialami oleh bagian tadi. Banyak prosesing digunakan dalam penyiapan bahan makanan ternak dan beberapa macam perlakuan mungkin secara nyata mengubah nilai gizi dari bahan-bahan tersebut. Panas mungkin merusak beberapa zat gizi atau sebaliknya. Beberapa zat gizi menjadi naik nilai kegunaannya. Jadi, penjelasan-penjelasan dari asal dan bagian harus diikuti dengan keterangan tentang perbedaan metode perlakuan (prosesing), seperti pengawetan, pemisahan, pengurangan ukuran dan perlakuan-perlakuan panas.
4.        Tingkat kedewasaan. Tingkat kedewasaan adalah faktor yang penting yang mempengaruhi nilai gizi hijauan, silase dan beberapa produk hewan ternak. Ada suatu tingkat kedewasaan optimal dari tanaman-tanaman hijauan dimana lewat batas tersebut komposisi kimia, perbandingan daun dan batang, banyaknya biji atau butiran padian sangat besar pengaruhnya tehadap nilai gizi. Karena kesukaran-kesukaran yang timbul dalam menentukan tingkat kedewasaan dari tanaman-tanaman yang berbunga dengan tidak bergantung musim, maka lama masa tumbuh dari tanaman digunakan sebagai “tingkat kedewasaan”. Tingkat kedewasaan ini didasarkan atas interval empat belas hari panenan. Di daerah subtropika, metode langsung guna mengukur pertumbuhan tanaman telah dikembangkan. Metode ini menggunakan beberapa citra (visual) karakteristik yang relatif mudah dikenali.
5.        Pemotongan (khususnya untuk hijauan). Beberapa tanaman hijauan dipotong dan dipanen beberapa kali dalam satu tahun. Setiap potongan mempunyai kandungan zat gizi yang khusus maupun ciri-ciri fisiknya. Keterangan untuk pemotongan didasari pada saat dan cara pemotongan dari pemotongan pertama sampai pemotongan terakhir dalam satu tahun. Dikarenakan tingkat kedewasaan lebih penting daripada waktu pemotongan, pemotongan-pemotongan hijauan seringkali diikuti dengan data tingkat kedewasaan bilamana dimuat didalam tabel-tabel komposisi bahan makanan.
6.        Grade (Garansi pabrik). Beberapa bahan makanan yang diperdagangkan dan bahan makanan ternak diberi grade resmi berdasarkan komposisi dari kualitas karakteristiknya. Bahan makanan seperti ini dijual berdasarkan kualitasnya dan grade resminya. Jadi, grade-grade ini dan kualitas yang telah ditentukan harus disertakan sebagai keterangan dari bahan makanan tersebut. Tanggungan dinyatakan dengan istilah “lebih dari” (minimum) dan “kurang dari” (maksimum) x % protein, lemak, dan serat kasar. Tanggungan dan istilah-istilah kualitas digunakan sebagai keterangan dalam faset ini.
Pemberian nama bahan makanan dan keterangannya yang lengkap secara internasional, meliputi seluruh keterangan yang dapat diterapkan pada bahan makanan tadi (Hartadi, 1990).
5.2.1.1.   Nomenklatur Hijauan Pakan
Bahan pakan hijauan merupakan bahan pakan yang berasal dari tanaman dan dapat dimakan ternak tanpa mengganggu kesehatan ternak. Secara garis besar bahan pakan hijauan digolongkan ke dalam lima kelompok bahan pakan yaitu, gramineae (rumput-rumputan), cyperaceae (teki-tekian), leguminosa (kacang-kacangan), browse (ramban) dan limbah pertanian. Pada umumnya, hijauan seperti rerumputan dan dedaunan merupakan bahan pakan berserat (Guntoro, 2008).
Kelompok gramineae atau rumput sebangsa padi digolongkan ke dalam dua golongan yaitu rumput alam dan rumput potong atau budidaya. Rumput alam atau yang biasa disebut rumput ladang adalah rumput yang tumbuh secara liar di tanah-tanah terbuka, jenis rumput yang tumbuh bersifat heterogen, misal rumput teki dan rumput pahit. Rumput alam merupakan salah satu hijauan pakan yang banyak digunakan sebagai pakan ternak ruminansia kecil. Namun ketersediaan dan kandungan nutrisinya sangat dipengaruhi iklim dan jenis tanah, dimana produksinya berlimpah dengan kualitas baik yaitu 7-8 % protein kasar pada musim hujan, kemudian akan menurun drastis menjadi sangat rendah hingga 2-3 % pada musim kemarau (Lay et al., 2002). Sedangkan rumput potong adalah rumput yang ditanam di lahan tertentu yang digunakan sebagai pakan ternak dan bersifat homogen, misalnya rumput gajah, rumput raja, setaria, dan setaria lampung. Kualitas rumput potong biasanya lebih tinggi bila dibandingkan dengan rumput liar, terutama kandungan proteinnya. Kandungan nutrien beberapa rumput potong tercantum sebagai berikut.
Tabel 5. Kandungan Nutrien Rumput Potong
Jenis Rumput
BK (%)
LK (%)
PK (%)
SK (%)
Rumput Lapang
Rumput Brachiaria
Rumput Gajah
Rumput Raja
Rumput Setaria
31,87
34,19
23,12
30,04
16,87
10,21
2,05
4,66
6,01
10,59
5,09
5,86
7,66
8,72
5,72
27,53
25,32
28,22
32,99
27,82
Keterangan : Hasil analisa Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan UNSOED tahun 2003.
Kelompok gramineae pada umumnya merupakan sumber serat atau karbohidrat dengan tingkat defoliasi antara 40-70 hari. Termasuk kelompok ini adalah bahan-bahan dengan protein kasar kurang dari 20 % dan serat kasar kurang dari 18 % (Rahardjo, 2002).
Kelompok bahan pakan leguminosa terdiri dari legum menjalar dan legum pohon atau perdu. Hijauan legum pada umumnya mempunyai kandungan protein, Ca dan P yang lebih tinggi dari gramineae dan biasanya dijadikan sumber protein. Namun dalam sebagian legum terdapat antinutrisi yang dapat membahayakan ternak. Lamtoro (Leucaena glauca) mengandung antinutrisi mimosin yang dapat menghambat pertumbuhan dan merontokkan bulu. Upaya untuk mengurangi kandungan antinutrisi yaitu dengan melakukan pelayuan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak (Sutardi, 2003).
Kelompok ramban (browse) adalah tanaman yang didapat dari tanaman yang sengaja bukan untuk diambil hijauannya, tetapi dengan tujuan lain, misalnya ditanam untuk pagar, diambil buahnya, sebagai peneduh jalan, dan lainnya. Hijauan yang termasuk ke dalam jenis ramban, yaitu daun nangka (Arthocarpus integra), daun dadap (Erytrina lithospermae), gamal (Glirisida maculata), hijauan turi (Sesbania grandiflora), daun waru (Hibiscus tileateus) dan hijauan bunga sepatu (Hibiscus rossasinensis). Biasanya ramban merupakan sumber karbohidrat serta memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Daun nangka dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terutama kambing.  Daun nangka mengandung protein kasar 5,2 %, serat kasar 1,3 %, BETN 5 % dan abu 2,1 %. Daun dadap dimanfaatkan sebagai bahan pakan untuk ternak dengan kandungan bahan kering yang terdiri dari protein kasar 27,15 %, serat kasar 18,50 % dan lemak kasar 2,91%. 
Limbah pertanian merupakan hijauan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah pertanian secara kuantitas sangat melimpah. Pada umumnya limbah pertanian berupa hijauan banyak dimanfaatkan sebagai pakan serat untuk ternak ruminansia guna mensubtitusi rumput (Guntoro, 2008). Salah satu hijauan yang termasuk ke dalam limbah pertanian adalah tanaman pisang (Musa parasidiaca) dan daun singkong (Manihot utilissima). Bagian-bagian tanaman pisang mempunyai kadar air yang sangat tinggi terutama pada batang pisang sehingga kadar bahan kering menjadi sangat kecil sampai 3,6%. Sementara itu, daun pisang dan buah pisang mempunyai kadar bahan kering yang menyerupai kadar bahan kering hijauan. Kandungan protein kasar bagian tanaman pisang tergolong rendah dan protein kasar daun pisang hampir sama dengan kandungan protein rumput Raja. Kandungan serat (NDF, ADF, selulosa, dan hemiselulosa) dalam bagian-bagian tanaman pisang dalam batas normal seperti pada hijauan lainnya tetapi kadar total abu sangat tinggi terutama pada batang (24,1%). Hasil analisis laboratorium Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Bogor mendapatkan rata-rata kadar total abu 15,5 dan 10,5% masing-masing dalam batang dan bonggol (Wina, 2001).
5.2.1.2.   Nomenklatur Bahan Pakan Konsentrat
Pertumbuhan ternak akan relatif lambat jika peternak hanya mengandalkan pemberian hijauan. Optimalisasi pertumbuhan ternak bisa dicapai dengan pemberian konsentrat yang bisa diperoleh dari limbah industri pertanian, termasuk dari proses pengolahan produk perkebunan (Guntoro, 2008).
Konsentrat termasuk pakan tambahan yang berfungsi sebagai pemacu pertumbuhan atau produksi bagi ternak ruminansia. Sementara itu bagi ternak monogastrik, konsentrat merupakan pakan utama. Bahan pakan sumber energi dari jenis konsentrat sebagian besar terdapat dalam bahan pakan asal tumbuh-tumbuhan atau nabati dengan limbahnya, di antaranya jagung kuning, sorghum, pollard, millet, bekatul, onggok, dan gandum. Bahan pakan sumber energi asal nabati ini umumnya mempunyai kandungan serat kasar yang cukup tinggi (Rasyaf, 1994).
Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Konsentrat sebagai sumber protein apabila kandungan protein lebih dari 18%, Total Digestible Nutrision (TDN) 60%. Ada konsentrat yang berasal dari hewan dan tumbuhan. Berasal dari hewan mengandung protein lebih dari 47%. Mineral Ca lebih dari 1% dan P lebih dari 1,5% serta kandungan serat kasar dibawah 2,5%. Contohnya : tepung ikan, tepung susu, tepung daging, tepung darah, tepung bulu dan tepung cacing. Berasal dari tumbuhan, kandungan proteinnya dibawah 47%, mineral Ca dibawah 1% dan P dibawah 1,5% serat kasar lebih dari 2,5%. Contohnya : tepung kedelai, tepung biji kapuk, tepung bunga matahari, bungkil wijen, bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit dll. Konsentrat sebagai sumber energi apabila kandungan protein dibawah 18%, TDN 60% dan serat kasarnya lebih dari 10%. Contohnya : dedak, jagung, empok, dan pollard.
Sumber mineral makro banyak terdapat di alam. Mineral makro yang ditambahkan dalam pakan ternak adalah Ca, P, Na dan Mg. Sumber Na dan Cl tersedia dalam garam dapur dalam bentuk NaCl. Vitamin merupakan komponen organik dan dibutuhkan dalam jumlah yang kecil bagi ternak, sebagai koenzim atau regulator pada berbagai metabolisme (Rasyaf, 1994). Selain sumber vitamin, ternak juga membutuhkan zat additives yang terkandung dalam premixes. Premixes adalah substansi campuran vitamin, mineral dan feed additives dalam satu pack / bungkus 5 lbs yang dicampurkan ke dalam per ton pakan untuk mencukupi kebutuhan microingridient (Sutardi, 2002).
Tabel 6. Komposisi Bahan Pakan Konsentrat
Bahan
Ka
PK
EE
SK
Abu
Ca
P
(%)
Jagung Kuning
Japanese millet biji
Bekatul
Pollard
Onggok
Bungkil kedelai (eks)
Bungkil kedelai (solv)
Bungkil kelapa (eks)
Bungkil kelapa (solv)
Tepung daging
Tepung tulang
Tepung hati hewan
Tepung darah
Tepung ikan
Tepung kepala ikan
Tepung udang
Tepung kepala udang
Tepung kulit udang
Visceral ikan
Tepung kerabang telur
13
10.3
10
12.5
18,3
10
10.5
9
8
8
4
8
9.5
10.3
14
16
14
10.3
15
3.9
8.5
8.4
12
15
0.8
42
45
20
21
60
12
65
90
54.6
45
75
45
45.3
57
7.6
4
5.9
12
4
0.2
4
0.6
6
1.5
8.5
3
14
1
9.85
2.7
3
2.7
6.62
3.7-5
-
2.5
6
4
10
2.2
6
6
12
14
2.5
2
2
1
1.99
11.4
-
11.4
17.6
2.38
-
1.5
3.6
8
6
2.5
6
6
7
5.5
21
12
6
4.5
14.3
25.1
6
25.1
18.6
5-17
91.1
0.02
0.11
0.05
0.1
-
0.25
0.25
0.2
8
6
26
0.6
0.3
3.34
-
-
-
7.76
-
36.4
0.25
0.45
1.3
1.15
-
0.6
0.6
0.6
0.6
2
13
1
0.25
3.34
-
-
-
1.31
-
0.12
Sumber : Sutardi (2003)
Tabel 7. Komposisi Bahan Pakan Sumber Mineral
Bahan
Ca
Cl
Mg
P
K
Na
Fe
(%)
Kapur
Phospat Alam
34
35
0.03
-
2.06
0.41
0.02
13
0.12
0.06
0.06
0.03
0.35
-
Sumber : Sutardi (2003)
5.2.1.3.   Pengenalan Alat
Praktikum pengenalan alat bertujuan untuk menentukan tetapan hasil analisis kimia yang akurat. Pengunaan alat-alat laboratorium antara lain untuk penimbangan, penyaringan, pengukuran volume cairan, pemijaran dan pengabuan, dan pengeringan (Sudarmadji, 1997). Sedangkan menurut Hartati (2002), penggunaan alat-alat laboratorium antara lain sebagai alat penimbangan, pengukuran volume cairan, melarutkan zat padat, penyaringan, pemijaran dan pengabuan serta penyaringan. Penimbangan menggunakan timbangan, penyaringan menggunakan kertas saring, dan corong bunche, pengaturan volume cairan menggunakan gelas ukur, pipet ukur, pipet volume, labu ukur dan buret. Pemijaran menggunakan tanur dan cara sederhana pengeringan menggunakan oven.
Pengeringan biasanya dipakai untuk menentukan kadar air atau dilakukan pada zat kimia padat yang akan ditimbang untuk standardisasi. Alat yang digunakan adalah oven yang dilengkapi dengan thermometer, thermostat dan pengatur waktu pengeringan yang dikehendaki. Alat yang digunakan untuk menyimpan bahan yang sudah dikeringkan adalak eksikator (dessicator) yang kedap udara, didalamnya terdapat zat yang bisa menyerap air (silica gel) sehingga pengaruh uap air selama penyimpanan bisa diabaikan (Sudarmadji, 1997).
Fungsi dari alat-alat laboratorium berbeda satu dan yang lainnya, begitu pula dengan cara penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan agar hasil dari penggunaan itu baik. Seperti timbangan yang digunakan dalam laboratorium terdiri dari berbagai jenis dan merk, yang perlu diketahui adalah kapasitas dan ketelitian timbangan yang akan digunakan apakah timbangan halus atau kasar (Sudarmadji, 1997). Jenis timbangan yang akan dipakai tergantung dari tujuannya, misalnya untuk penentuan kadar abu dan air harus digunakan neraca analitis dengan ketelitian 0,1 mg, sedangkan untuk menimbang bahan kimia yang akan dibuat menjadi larutan jenuh, cukup menggunakan timbangan yang lebih kasar.  Alat-alat untuk penimbangan harus bersih dan telah dikeringkan dalam oven suhu 105º-110ºC dan didinginkan sampai suhu kamar dalam desikator selama 15 menit, demikian pula bila akan menimbang sesuatu yang panas harus didinginkan terlebih dahulu dengan cara yang sama. Selama menimbang harus digunakan alat penjepit untuk mengambil sesuatu agar tidak mempengaruhi beratnya. Zat kimia bisa diambil dengan sendok tanduk, spatula atau pipet (untuk bahan cair). Setiap menambah atau mengambil beban dari pan penimbang, timbangan harus dalam keadaan tidak bergerak atau nol. Apabila selesai menimbang, alat timbangan dibersihkan dan dikembalikan dalam keadaan terkunci (Sudarmadji,1997).
5.2.2.      Uji Fisik Bahan Pakan
5.2.2.1.   Berat Jenis
Berat jenis merupakan perbandingan antara massa bahan terhadap volume dan memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan, dan penyimpanan. Berdasarkan hasil perhitungan analisis varian ternyata menunjukan perbedaan yang nyata diantara kedua sampel bekatul terhadap nilai berat jenis. Perbedaan ini diduga dipengaruhi oleh karakteristik permukaan partikel dan pemasukan sampel yang kurang teliti ke dalam gelas ukur.
Dilihat dari niai berat jenis ternyata dari kedua sampel menunjukan nilai di bawah 1 yang berarti lebih kecil dari volume. Hasil praktikum diperoleh nilai berat jenis 0,294 gr/ml. Besarnya berat jenis (density) bahan pakan penting diketahui karena apabila suatu bahan pakan mempunyai nilai densitas yang rendah yaitu perbandingan antara berat bahan pakan dengan volume lebih besar berarti intake untuk ternak hanya sedikit dan sebaliknya. Pakan yang baik adalah nilai densitasnya lebih besar sehingga intake pakan meningkat (Sudarmadji, 1997).
Perbedaan nilai berat jenis selain dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik permukaan, juga dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan. Hal ini sesuai pendapat Khalil (1999) yang menyatakan bahwa adanya variasi dalam nilai BJ dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan, distribusi ukuran partikel, dan karakteristik permukaan partikel. Bahan pakan yang memiliki perbedaan BJ cukup besar, akan menghasikan campuran tidak stabil dan mudah terpisah kembali (Chung dan Lee, 1995).
5.2.2.2.   Luas Permukaan Spesifik (LPS)
Luas permukaan spesifik adalah  luas permukaan spesifik bahan pakan dengan berat tertentu. Luas pernukaan spesifik berperan untuk mengetahui tingkat kehalusan dari bahan pakan tanpa diketahui distribusi, ukuran komposisi partikel secara keseluruhan (Sutardi, 2003). Luas permukaan spesifik yang diperoleh pada saat praktikum adalah 44,94 cm­­­­­²/gr.
Luas permukaan spesifik sangat besar pengaruhnya untuk keefisienan suatu proses penanganan seperti packaging, transportasi dan penyimpanan. Apabila luas permukaan spesifik besar atau tingkat kehalusan tinggi maka dalam suatu packaging akan memuat bahan pakan yang lebih banyak, hal ini berarti transportasi dan penyimpanan akan menjadi berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Jaelani (2007) yang menyatakan bahwa keefisienan suatu proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia dan nilai nutrisi saja tetapi juga menyangkut sifat fisik, sehingga kerugian akibat kesalahan penanganan bahan pakan dapat dihindari.
5.2.2.3.   Daya Ambang
Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu partikel bahan bila dijatuhkan dari ketinggian tertentu dalam waktu tertentu. Rata-rata hasil perhitungan daya ambang adalah 1,83 m/s. Daya ambang yang terlalu lama akan menyulitkan dalam proses pencurahan bahan karena dibutuhkan waktu yang lebih lama (Jaelani, 2007).
Daya ambang berperan terhadap keefisienan pemindahan atau pengangkutan. Apabila daya ambang suatu bahan pakan kecil maka waktu yang dicapai juga kecil, sebaliknya waktu yang dicapai besar maka daya ambangnya juga akan menjadi besar. Perhitungan daya ambang bertujuan untuk :
1.    Efisiensi pemindahan atau pengangkutan yang menggunakan alat penghisap.
2.    Pengisisan silo yang menggunakan gaya gravitasi dan daya ambang berbeda akan terjadi pemisahan partikel (Sutardi, 2003).
5.2.2.4.   Sudut Tumpukan
Sudut tumpukan atau angle of repose didefinisikan sebagai sudut yang dibentuk oleh permukaan bidang miring bahan yang dicurahkan membentuk gundukan dengan bidang horizontal. Sudut tumpukan merupakan kriteria kebebasan bergerak satu partikel pakan dalam tumpukan. Semakin tinggi tumpukan, maka semakin kurang bebas suatu partikel bergerak dalam tumpukan. Sudut tumpukan berperan antara lain dalam menentukan flowabivity (kemampuan mengalir suatu bahan, efisiensi pada pengangkutan atau pemindahan secara mekanik, ketepatan dalam penimbangan dan kerapatan kepadatan tumpukan (Thomson, 1993).
Besarnya sudut tumpukan dari hasil percobaan berupa bekatul adalah α = 37,93º. Menurut Sudarmadji (1997) sudut tumpukan antara 30-39 termasuk ke dalam kelompok sedang, dimana sifat kemudahan bahan pakan dalam penanganan atas dasar pengangkutan relatif sedang.
Sudut tumpukan merupakan faktor yang mempengaruhi homogenitas campuran. Perbedaan keragaman ukuran materi dalam campuran dapat mengakibatkan pemisahan secara nyata apabila materi mempunyai perbedaan sudut tumpukan (Axe, 1995).
5.2.3.      Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan pengujian laboratorium bahan pakan yang akan diformulasi dan diolah menjadi ransum pellet, crumble, mash, dan parameter pengujian. Parameter pengujian ini meliputi parameter kadar air. Protein kasar, lemak, SK, abu, Ca, dan P. Hasil analisis proxsimat sangat penting dan akurasinya sangat berguna dalam formulasi ransum terhadap mutu pakan jadi yang dihasilkan. Dari sistem analisi proksimat dapat diketahui adanya enam fraksi. Komponen masing-masing fraksi adalah sebagai berikut :
Tabel 8.  Komponen Berbagai Fraksi Hasil Analisis Proxsimat
Fraksi
Komponen
Air
Abu
Protein Kasar
Lemak Kasar
Serat Kasar
BETN
Air dan senyawa organik yang mudah  menguap
Unsur mineral
Protein, asam amino, NPN
Lemak, minyak, asam organik, lilin, pigmen, vitamin ADEK
Hemiseluosa, selulosa, lignin
Pati, gula, hemiselulosa, selulosa, lignin
Sumber : Soejono (2004)
Kelebihan analisis proksimat  antara lain: (a) kebanyakan laboratorium menggunakan sistem ini (b) alat mahal dan canggih kurang dibutuhkan, (c) menghasilkan hasil analisis secara garis besar dari pakan yang bersagkutan, (d) dapat menghitung Total Digestible Nutrient (TDN) berdasarkan hasil analisis proksimat dan (e) memberikan penilaian secara umum pemanfaatan makanan pada ternak.
Beberapa kelemahan analisis proksimat, yaitu: (a) sistem tidak mencerminkan zat makanansecara individu dari zat makanan, (b) kurang tepat, terutama untuk analisis serat kasar dan lemak kasar, akibatnya untuk kalkulasi BETN juga kurang tepat, (c) proses memerlukan waktu yang cukup lama, (d) tidak dapat menerangkan lebih jauh tentang daya cerna, palatabilitas dan tekstur suatu bahan pakan (Soejono, 2004).
Konsentrat sapi (basal) terdiri dari berbagai macam bahan pakan yang mengandung asam amino lengkap seperti bungkil kedelai, bekatul/kacang hijau, kacang tanah, jagung yang digiling halus. Sapi mendapat pakan hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 70:30, kadar protein minimal 12% dan TDN minimal 60%. Kandungan nutrien konsentrat hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak mengandung Bahan Kering 94,17%, Lemak Kasar 11,20%, Protein Kasar 12,86%, dan Serat Kasar 15,25% (Suhartati, 2004).
5.2.3.1.   Kadar Air dan Kadar Bahan Kering
Air merupakan zat makanan yang paling banyak dan mudah didapat di alam. Bahan pakan mempunyai kandungan  air lebih banyak dibandingkan dengan kandungan nutrien lainnya. Yang dimaksud air dalam analisis proxsimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan selama beberapa waktu pada suhu 105-110ºC dengan tekanan udara bebas sampai sisanya yang tidak menguap mempunyai bobot tetap (Soejono, 2004). Penentuan kadar air dilakukan dengan dua metode yaitu penyulingan langsung dan tidak langsung (oven). Penentuan kadar air minimal 24 jam. Banyaknya air yang terkandung di dalam suatu bahan pakan dapat diketahui jika bahan pakan dipanaskan (Hartadi, 1992).
Sutardi (2003), menyatakan bahwa tinggi rendahnya kadar air dalam bahan pakan harus diatur. Kadar ini menentukan komposisi kandungan nutrien pakan. Faktor yang mempengaruhi kadar air salah satunya adalah metode pengeringan dan kandungan air dari suatu bahan pakan. Pakan dapat disimpan jika bahan pakan mempunyai kandungan air 13,5%, karena kandungan air yang terlalu tinggi akan merusak nutrien dari bahan pakan karena didegradasi oleh bakteri. Kadar air konsentrat sapi hasil praktikum adalah 13,5%, maka bahan ini termasuk pakan yang baik karena kadar air tidak melebihi 14%.
Penentuan kadar air yang secara langsung juga dapat menentukan kadar bahan kering merupakan prosedur yang umum dikerjakan, hal ini penting karena bobot bahan kering akan digunakan sebagai standar bobot untuk penentuan kadar fraksi lainnya (Soejono, 2004).
5.2.3.2.   Kadar Abu dan Kadar Bahan Organik
Anggorodi (1991), menyatakan bahwa zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam pakan atau jaringan  hewan ditentukan dengan membakar zat organik dan kemudian menimbang ini disebut kadar abu. Abu hasil pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi presentase zat tertentu yang terdapat pada bahan pakan. Kadar abu bahan pakan menunjukan kualitas dari bahan pakan tersebut karena semakin tinggi bahan organik pada pakan berarti bahan pakan tersebut banyak mengandung karbon. Sedangkan menurut Soejono (2004), meskipun abu terdiri dari komponen mineral, namun bervariasinya unsur mineral dalam pakan asal tanaman menyebabkan abu tidak dapat dipakai sebagai indeks untuk menentukan jumlah unsur mineral tertentu.
Kadar  abu  suatu bahan pakan ditentukan dengan pembakaran bahan pada suhu tinggi (500-600ºC). Pada suhu  tinggi bahan  organik yang ada akan terbakar sempurna menjadi CO2, H2O, dan gas lain yang menguap, sedang sisanya merupakan abu atau campuran dari berbagai oksida mineral. Kadar abu yang didapat pada saat praktikum adalah 4,6% dan kandungan bahan organik sebesar 95,4%, hal ini menunjukan bahwa konsentrat sapi (basal) banyak mengandung karbon.
5.2.3.3.     Kadar Protein Kasar
Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen bahan pakan melalui metode kjeldahl yang kemudian dikali dengan faktor protein : 6,25. Angka 6,25 diperoleh dengan asumsi bahwa protein mengandung 16% nitrogen. Kelemahan analisis proxsimat untuk protein kasar itu sendiri terletak pada asumsi dasar yang digunakan. Pertama, diasumsikan bahwa semua nitrogen bahan pakan merupakan protein padahal kenyataannya tidak semua nitrogen berasal dari protein dan kedua, bahwa kadar nitrogen protein 16%, tetapi kenyataannya kadar nitrogen protein tidak selalu 16% (Soejono, 2004).
Penentuan kadar protein melalui metode kjeldahl dilakukan melalui tahap sebagai berikut :
1.        Proses destruksi (oksidasi), perubahan n protein menjadi amonium sulfat ((NH4­)2 SO4). Sampel dipanaskan dengan asam sulfat (H2SO4) pekat dan katalisator yang akan memecah semua ikatan N dalam bahan pakan menjadi amonium sulfat kecuali ikatan N=N, NO, dan N2. CO dan H2O terus menguap. SO2 yang terbentuk sebagai hasil reduksi dari sebagian asam sulfat juga menguap. Dalam reaksi ini digunakan katalisator selenium (Hg/Cu). Destruksi dihentikan jika larutan barwarna hijau jernih.
Zat organik (basal) + H2SO4              CO2 + H2O + (NH4)2 SO4 + SO2
2.        Proses Destilasi (Penyulingan). Setelah larutan menjadi hijau jernih, labu destruksi didinginkan kemudian larutan dipindahkan ke labu destilasi dan diencerkan dengan aquades. Pengenceran dilakukan untuk mengurangi reaksi yang hebat jika larutan ditambah alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH4)2SO4 akan melepaskan amoniak (NH3). Hasil sulingan uap NH3 dan air ditangkap oleh larutan H2SO4 yang terdapat dalam labu erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH4)2SO4 kembali. Penyulingan dihentikan bila semua N sudah tertangkap oleh asam sulfat dalam labu erlenmeyer.
       NH3 + H2SO4                   (NH4)2SO4 + H2SO4
3.        Proses titrasi, kelebihan H2SO4 yang tidak digunakan untuk  menangkap N dititrasi dengan NaOH. Titrasi dihentikan jika larutan berubah dari biru ke hijau
Hasil praktikum kadar protein kasar didapat sebesar 17,2%. Hal ini mendekati sesuai karena kandungan protein kasar pada konsentrat sapi (basal) sekitar kurang dari 20% atau tepatnya sekitar 13-15% (Suhartanto, 2000). Hal ini disebabkan karena proses tidak sempurna, yaitu tidak semua ikatan amonium sulfat terpecah dan alat kurang optimal.
5.2.3.4. Kadar Serat Kasar
Thomson (1993), menyatakan bahwa serat kasar merupakan salah satu nutrien yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin, dan gliserida. Metode pengukuran kandungan serat kasar pada dasarnya mempunyai konsep yang sederhana. Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang larut dalam asam dengan pendidihan dalam asam sulfat. Bahan yang larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut dikenal sebagai serat kasar.
Hasil dari analisis kadar serat kasar pada konsentrat sapi (basal) adalah 12%, hasil ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak kandungan kadar serat kasar sebesar 15,25%. Sedangkan Suhartanto (2000) menyatakan bahwa pakan basal adalah pakan komplit (komersial) dengan kadar protein kasar 13-15%, serat kasar 25%, dan TDN sekitar 65%. Perbedaan mengenai haltersebut bisa terjadi dikarenakan dalam  proses analisis kurang teliti, pengovenan yang kurang sempurna dan perbedaan komposisi pakan basal (konsentrat sapi).
5.2.3.5.   Kadar Lemak Kasar
Analisis kadar lemak kasar dapat dilakukan dengan metode langsung yang berprinsip bahwa lemak dapat diekstrasi dengan eter atau pelarut lemak lainnya, sedangkan metode tidak langsung berprinsip lemak dapat diekstrasi oleh eter atau pelarut lainnya (Tillman, 1993).
Istilah lemak kasar menggambarkan bahwa zat dimaksud bukan hanya mengandung senyawa yang tergolong ke dalam lemak tetapi termasuk senyawa lain. Lemak mempunyai konsentrasi energi paling tinggi dibanding nutrien pakan lainnyakarena mempunyai struktur intra molekuler karbon dan hidrogen yang lebih banyak sehingga lemak merupakan sumber kalori yang penting disamping berperan sebagai pelarut vitamin. Pada praktikum analisis kadar lemak kasar digunakan metode soxlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxlet dengan menggunakan pelarut lemak petroleum benzena. Hasil yang diperoleh untuk kadar lemak adalah 0,5%. Sedangkan hasil penelitian Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak kadar lemak kasar konsentrat sebesar 11,20%. Hasil ini menunjukan adanya perbedaan dengan kadar lemak kasar hasil penelitian, hal ini disebabkan karena terjadi penambahan berat bahan setelah pengeringan yang kedua. Menurut Soejono (2004) pengeringan temperatur tinggi dengan menggunakan oven pada suhu 105ºC banyak menyebabkan kehilangan senyawa yang tidak tahan panas dan berarti berat bahan semakin berkurang. Akan tetapi, pada kenyataannya berat makin bertambah hal ini disebabkan karena pengeringan yang tidak sempurna dan terlalu lama disimpan dalam desikator sehingga mempengaruhi berat bahan.
Tinggi rendahnya kadar lemak pada tanaman dipengaruhi oleh spesies, umur dan perbedaan bagian yang digunakan untuk sampel. Lemak pada tanaman terutama terdapat pada biji-bijian sebangsa legum. Hasil samping yang berupa bungkil jelas lebih rendah daripada bijinya, sebab bungkil merupakan hasil samping dari pembuatan minyak biji tanaman (Kamal, 1998).
Defisiensi lemak pada ransum akan mengakibatkan gangguan pencernaan, penurunan efisiensi pakan, gangguan reproduksi dan laktasi, kulit bersisik, bulu rontok, pertumbuhan suboptimal, dan kematian. Kelebihan lemak pada ransum akan mengakibatkan lemak tubuh menjadi lunak dan kualitas karkas menurun (Tillman, 1993).
5.2.4.      Free Fatty Acid
Asam lemak bebas yaitu nilai yang menunjukkan jumlah asam lemak bebas yang ada di dalam lemak atau jumlah yang menunjukkan berapa banyak asam lemak bebas yang terdapat dalam lemak setelah lemak tersebut di hidrolisa. Analisis kimia untuk mengetahui asam lemak bebas pada bahan pakan dilakukan dengan proses AOAC (1990). Proses kimiawi yang dapat terjadi dalam penyimpanan pakan adalah terjadi perubahan atau kerusakan kandungan lemak dari pakan tersebut. Kerusakan bijian dan bahan makanan pada penyimpanan dengan kondisi temperatur dan kadar air tinggi, terutama disebabkan oleh meningkatnya aktivitas enzim lipase dalam hidrolisis lemak dimana lemak dipecah menjadi asam lemak bebas dan glycerol. Hasil praktikum didapat volume NaOH sebesar 3,3 ml sehingga setelah dihitung % FFA sebesar 0,651%.
Perlakuan cara pengeringan dengan sinar matahari memberikan nilai kadar asam lemak bebas yang lebih tinggi dibanding dengan pengertian secara oven dan diantara dua perlakuan tersebut menunjukkan ada beda nyata. Hal ini disebabkan karena inaktifnya enzim oleh panas yang berbeda, karena pada pengering mekanis (drier) memberikan suhu yang lebih tinggi sehingga menimbulkan panas yang lebih tinggi akan memberikan nilai kadar asam lemak bebas yang lebih kecil dibanding pengeringan dengan sinar matahari. Menurut Hartley (1977) dalam Winarno (1987), menyatakan bahwa enzim lipase tidak aktif sama sekali pada temperatur yang tinggi. Disamping itu dengan adanya perbedaan kadar air dalam bahan juga akan berpengaruh pada proses hidrolisa yang terjadi dan semakin tinggi kadar air dalam bahan maka akan semakin cepat proses hidrolisa berlangsung, dengan demikian semakin besar pula asam lemak bebas yang terbentuk.
 Masuknya lemak ransum mengakibatkan asam-asam lemak bebas (FFA = Free Fatty Acid) melekat pada partikel bahan makanan yang mengandung karbohidrat penyangga dan menyebabkan partikel tersebut tidak sulit terfermentasi (Suwandyastuti, 1989).
5.2.5.      Energi Bruto
Analisis kadar energi adalah usaha untuk mengetahui kadar energi bahan baku pakan. Dalam analisis, biasanya ditentukan energi bruto terlebih dahulu dengan cara membakar sejumlah bahan baku pakan sehingga diperoleh hasil-hasil oksidasi yang berupa karbondioksida, air dan gas-gas lainnya. Untuk mengukur panas yang ditimbulkan oleh pembakaran digunakan suatu alat bomb kalorimeter. Penentuan energi bruto menyatakan energi kalori dalam bahan baku pakan yang dianalisis. Untuk standar energi bahan baku pakan unggas, digunakan energi metabolis (E.M.) dan diperhitungkan sekitar 60% dari energi bruto (Agus, 1987).
Piliang dan Djojosoebagio (2006), menyatakan apabila energi yang masuk ke dalam tubuh dapat mencukupi kebutuhan, kebutuhan protein dan asam amino dapat diperkirakan dengan metode keseimbangan nitrogen karena sekitar 16% protein terdiri dari nitrogen. Peningkatan energi bruto yang diserap oleh tubuh akan meningkatkan pertumbuhan.
Gross Energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO2 dan air. Tentu saja CO2 dan air ini masih mengandung energi, akan tetapi dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak bisa memecah zat-zat melebihi CO2 dan air. Gross Energy diukur dengan alat bomb kalorimeter. Apabila N dan S terdapat dalam senyawa sampingan karbon H dan O (C, H dan O). Unsur-unsur tersebut akan timbul sebagai oksida nitrogen dan sulfur pada waktu senyawa itu dioksider dalam bomb kalorimeter. Analisis kimia untuk mendapatkan energi bruto bahan pakan dengan prosedur AOAC (1990).
Praktikum dengan sampel basal sebesar 0,5 gram. Kemudian dibungkus dan diikat dengan kawat energi panjang 12 cm. Kemudian dibungkus dalam bomb kalorimeter. Selama pembakaran suhu awal dan akhir dicatat, dimana suhu awal 27,6ºC dan akhir 27,9ºC. Setelah dilakukan pembakaran dan titrasi air cucian dari bomb kalorimeter, maka diperoleh kadar energi untuk pakan basal sebesar 2789,04 kal/gr.
Tinggi rendahnya energi dipengaruhi oleh kandungan protein, karena protein berperan sekali terhadap pertumbuhan sehingga mempengaruhi jumlah ransum yang masuk ke dalam tubuh (Rasyaf, 1994). Nilai energi bruto dari suatu bahan pakan tergantung dari proporsi karbohidrat, lemak dan protein yang dikandung bahan pakan tersebut. Air dan mineral tidak menyumbang energi pakan tersebut. Nilai energi bruto tidak menunjukan energi tersebut tersedia untuk ternak atau tidak tersedia, tergantung dari kecernaan bahan pakan tersebut. Penambahan DL-Methionin mampu menurunkan jumlah energi bruto yang dibuang melalui sekreta sehingga energi bruto yang diserap atau dicerna meningkat. Proses pengeluaran nitrogen melalui ekskreta membutuhkan energi sehingga dapat menyebabkan penurunan energi metabolis (Sibbald, 1985).

VI.  KESIMPULAN DAN SARAN
 

6.1.  KESIMPULAN
1.        Pemberian nomenklatur dimaksudkan untuk menghindari kesamaan nama antara jenis pakan yang satu dengan pakan yang lain. Pemberian nama terbagi menjadi enam faset yaitu ; asal, bagian, proses, umur, defoliasi dan grade.
2.        Kualitas sifat fisik suatu bahan tergantung dari berat jenis (density), luas permukaan spesifik, daya ambang dan susut tumpukan.
3.        Analisis proxsimat dapat digunakan untuk menghitung kadar komposisi bahan pakan tetapi tidak dapat memberikan penjelasan kualitas suatu bahan.
4.        Hasil dari analisis proxsimat, Free Fatty Acid, dan Energi Bruto dapat digunakan dalam penyusunan ransum.

6.2.   SARAN
1.        Alat yang akan dipakai sebagai wadah bahan yang akan ditimbang harus dikeringkan terlebih dahulu.
2.        Harus lebih teliti dalam pengukuran daya ambang.
3.        Harus lebih teliti dalam melakukan analisis proxsimat khususnya analisis kadar lemak.
4.        Perlu diperhatikan cara menentukan batas tinggi cairan yang diukur dalam proses titrasi.
5.        Pendinginan dalam desikator jangan terlalu lama.
6.        Selama menimbang dan mengambil sesuatu dari oven atau tanur harus mengunakan alat penjepit.
7.        Harus lebih teliti dalam melakukan perhitungan.
8.        Penetesan indikator tidak boleh terlalu banyak.




DAFTAR PUSTAKA
 

Agus, B.M. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Anggorodi. 1991. Ilmu Bahan Pakan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

AOAC. 1990. Official Methods of Analisis. Asosiaion  of Official Analitic Chemist. Washington DC. USA.

Axe, D.E. 1995. Factors Affecting Uniformity of a Milk. Mailinkrodt Feed Ingredients. Mundelain.

Bamualim, A. 1994. Usaha Peternakan Sapi Perah di Nusa Tenggara Timur. Prosiding Seminar Pengolahan dan Komunikasi Hasil – Hasil Penelitian Peternakan dan Aplikasi Paket Teknologi Pertanian. Sub Balai Penelitian Ternak Lili / Balai Informasi Pertanian Noelbaki. Kupang.

Chung, D.S. And C.H. Lee. 1985. Grain Phisical and Thermal Properties Related to Drying and Aeration. ACIAR Proceeding No. 71. Australia.

Guntoro, S. 2008. Membuat Pakan Ternak dari Limbah Perkebunan. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Hartadi, H. 1992. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

Hartadi, H., Soedomo R., dan A.D. Tillman. 1990. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hartati, Sri. 2002.  Nutrisi Ternak Dasar. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Jaelani, A. dan N. Firahmi. 2007. Kualitas Sifat Fisik dan Kandungan Nutrisi Bungkil Inti Sawit dari Berbagai Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan.

Kamal, M. 1998. Bahan Pakan dan Ransum Ternak. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Kartadisastra, H.R. 1994. Beternak Kelinci Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Khalil. 1999. Pengaruh Kandungan Air dan Ukuran Partikel terhadapSifat Fisik Pakan Lokal : Sudut Tumpukan, Kerapatan Tumpukan, Kerapatan Pemadatan Tumpukan, Berat Jenis, Daya Ambang, dan Faktor Higroskopis. Media Peternakan 22 (1) : 1 – 11.

Lay, W.A., D. Amalo, Y.R. Noach dan G. Malelak. 2002. Analisis Pertumbuhan Finansial Penggunaan Blok Suplemen Pakan Gula Lontar (BSPGL) pada Pemeliharaan Sapi Bali Jantan Muda. Laporan Penelitian Proyek Indonesia – Australia Pasca IAEUP Fakultas Peternakan Universitas Cendana, Bali.

Lu, C.D. and M.J. Potchoiba. 1990. Feed Intake and Weight Gain of Goats Fed Diets of Various Energy and Protein Levels. J. Anim. Sci. 68 : 1751 – 1759.

Lubis, D. A. 1993. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan. Bogor.

Piliang, G.W. dan S. Djojosoebagio. 2006. Fisiologi Nutrisi Volume 1. Percetakan IPB. Bogor.
Prasetyastuti, et.al.  1988.  Pedoman Praktis Cara Pemberian Pakan:  Malang. Proyek Kali Konto A 206.
Prasetyo, A., T. Herawati, dan Muryanto. 2006. Produksi dan Kualitas Limbah Pertanian sebagai Pakan Subtitusi Ternak Ruminansia Kecil Di Kabupaten Brebes. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Ungaran.

Rasyaf, M. 1994. Pakan Ayam Broiler. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Sibbald, I.R. and M.S. Wolynetz. 1985. Relationships between estimates of bioavailable energy made with adult cockrerels and chicks: Effect of feed intake and nitrogen retention. Poultry Sci., 64: 127-138.

Soejono, M. 2004. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Sudarmadji, S. 1997. Prosedur untuk Analisa Bahan Pakan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

Suhartanto, B. 2000. Kecernaan Kompartimental Riel Nitrogen Pakan Di dalam Intestinum dan Rundamen Transformasinya Ke dalam Nitrogen Mikroorganisme pada Ruminansia : Aplikasi dan Evaluasi Bahan Pakan yang Telah Diukur Protein Real Tercernanya dalam Intestinum pada Ransum. Karya Ilmiah Hasil Penelitian Lembaga Penelitian UGM. Yogyakarta.

Suhartati, F.M., W. Suryapratama, dan S. Rahayu. 2004. Analisis Sifat Fisik Rumput Lokal. Animal Production, Vol 6, No.1:37-42.

Sulistyo, J., Y.S. Soeka, E. Triana dan R.N.R. Napitupulu. 1999. Bioprocessing of fermented coconut oil by application of enzilmatic technology. Berita biologi 4 (5): 273-279

Sutardi, Tri R., W. Suryapratama, Munasik, dan T. Widiyastuti. 2002. Bahan Kuliah Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Sutardi, T.R., E. Aris, dan S. Rahayu. 2003. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Sutardi, T.R. 2004. Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Suwandyastuti, S.N.O., Suparwi, Zubaidah, dan Rimbawanto. 1989. Kecernaan Energi dan Protein Kompos Jamur Merang (Mushroom  straw) pada Pedet Jantan Lepas Sapih. Laporan Peneitian. Fakultas Peternakan. Universitas Jenderal Soedirman.

Thomson, F.M. 1993. Hand Book of Powders Science and Technology 391, 393, eds, M. E. Fayed and L. Otten. New York.

Tillman, A.D. 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Wina, E. 2001. Tanaman Pisang sebagai Pakan Ternak Ruminansia. WARTAZOA Vol.11, No.1:20-27.

Winarno, F.G. 1987. Enzim Pangan. Gramedia. Jakarta.

Yani, A. 2004.  Pengaruh Teknologi Silase terhadap Nilai Nutrisi Bagasse Tebu pada Sapi Bali. Jurnal Ilmiah Ilmu – Ilmu Peternakan, Vol. VII. No. 4.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar